Diposkan oleh ................................

"TAFSIR TENTANG ILMU PENGETAHUAN"

BAB II
PEMBAHASAN

A. SEKILAS TENTANG ILMU PENGETAHUAN
Al-Quranulkarim kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w, untuk menjadi panduan bagi ummat manusia seluruhnya. Kandungan isinya meliputi

semua bidang kehidupan manusia didunia dan diakhirat. Ia mengandungi Perintah dan Larangan, khabar gembira dan duka, sejarah ummat dahulu kala untuk dijadikan teladan bagi ummat kini dan ummat yang akan datang, dan berbagai Ilmu Pengetahuan lainnya. Kebenaran al-Quran tidak dapat dipertikaikan.Banyak usaha yang telah dijalankan oleh manusia untuk menandingi al-Quran, tapi usaha mereka sia-sia sahaja.
Allah berfirman yang artinya:

"Katakanlah, sesungguhnya jika sekiranya berkumpul manusia dan jin untuk membuat serupa al-Quran,niscaya mereka tidak akan sanggup membuatnya, meskipun sebahagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lainnya."
(al-Isra' ayat 88)

Meskipun Al-Quranulkarim diturunkankan kepada nabi Muhammad s.a.w. lebih dari 1400 tahun yang lalu, dan Nabi Muhammad s.a.w, kita ketahui semenjak kecil telah menjadi anak yatim piatu. Nabi s.a.w, tidak pernah berguru kepada sesiapapun. Sudah tentu jika sekiranya al-Quran bikinan manusia, maka manusia lainnya yang telah mendapat pendidikan yang tinggi dalam bidang bahasa dan sastra Arab, dan mempunyai Ilmu Pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang Ilmu Pengetahuan, tentu sahaja dapat menandingi al-Quranulkarim. Kenyataan yang kita lihat tidak ada yang sanggup menandingi al-Quran walaupun ramai yang telah mencobanya. Al-Quranulkarim mendapat penjagaan langsung dari Allah s.w.t, sebagaimana firman Allah:

"Sesungguhnya telah Kami turunkan peringatan (al-Quran )dan sesungguhnya Kami memeliharanya." (al-Hijr ayat 9)
Membicarakan tentang ilmu dan pengetahuan kami dapat menjelaskan bahwa Ilmu bisa berarti proses memperoleh pengetahuan, atau pengetahuan terorganisasi yang di peroleh lewat proses tersebut. Proses keilmuan adalah cara memperoleh pengetahuan secara sistematis tentang suatu sistem. Perolehan sistematis ini umumnya berupa metode ilmiah, dan sistem tersebut umumnya adalah alam semesta. Dalam pengertian ini, ilmu sering disebut sebagai sains.
Tetapi, ilmu dapat pula bermakna jauh berbeda dari pengertian sains. Di masyarakat kita, biasa kita dengar istilah "ilmu hitam", yaitu ilmu yang berkonotasi buruk, misalnya bisa bermakna ilmu yang muncul dari kekuatan gaib yang ditujukan untuk melakukan perbuatan jahat. Hal yang seperti ini telah menjadi sesuatu yang di salah kaprahkan oleh kalangan masyarakat tertentu, sebenarnya hal yang seperti itu sangatlah tidak sah bila di katakan sebagai “ilmu hitam” mengingat hakikat daripada ilmu itu sendiri adalah suci dari tuhan.
Adapun pengetahuan, dalam bahasa Arab digambarkan dengan istilah al-ilm, al-ma’rifah dan al-syu’ur. Namun, dalam pandangan dunia Islam, yang pertamalah yang terpenting, karena ia merupakan salah satu sifat Allah SWT. Al-ilm berasal dari akar kata l-m dan diambil dari kata ‘alamah, yang berarti “tanda”, “simbol”, atau ”lambang”, yang dengannya sesuatu itu dapat dikenal. Tapi alamah juga berarti pengetahuan, lencana, karakteristik, petunjuk dan gejala.. Karenanya ma’lam (amak ma’alim) berarti petunjuk jalan, atau sesuatu yang menunjukkan dirinya atau dengan apa seseorang ditunjukkan. Hal yang sama juga pada kata alam berarti rambu jalan sebagai petunjuk. Di samping itu, bukan tanpa tujuan al-Quran menggunakan istilah ayat baik terhadap wahyu, maupun terhadap fenomena alam


B. KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU PENGETAHUAN

وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ {122}
Artinya: tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang dari mereka untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. [At-taubah:122]
Tafsir ayat:
Berkata Ibnu Abbas mengernai ayat ini, “Tidak sepatutnya orang-orang yang mukmin itu pergi semua ke medan perang dan meninggalkan rosulullah seorang diri”.
Berkata qotadah, “jika rosulullah SAW. Mengirim pasukan untuk berperang, maka hendaklah sebagian pergi berperang dan sebagian lagi tinggal bersama rosulullah untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan mereka tentag agama, kemudian dengan pengetahuan yang mereka peroleh itu, hendaklah mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan kepada mereka.”
Berkata Ad-Dhahhak, “Jika rosulullah mengajak berjihad (perang total) maka tidak boleh tinggal di belakang kecuali mereka yang uzdur. Akan tetapi jka rosulullah memerintahkan sebuah “sariyyah” maka hendaklah sebagian pergi berperang dan segolongan lagi tinggal bersama rosulullah memperdalam pengetahuannya tentang agama, untuk di ajarkan kepada kaumnya jika kembali.”

Sebab turunnya ayat:
Hadits dari Abdullah dan Ubaid bin umair berkata, karena begitu semangatnya orang-orang mukmin dalam berjihad ketika rosulullah mengutus pasukan perang, mereka semua keluar dan meninggalkan nabi.
Pada dasarnya kita hidup didunia ini tidak lain adalah untuk beribadah kepada Alloh. Tentunya beribadah dan beramal harus berdasarkan ilmu yang ada di Al-Qur’an dan Al-Hadist. Tidak akan tersesat bagi siapa saja yang berpegang teguh dan sungguh-sungguh berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Rosulullah Saw bersabda:
“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Dia akan memberikan kepahaman agama kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hal inilah mencari ilmu itu merupakan kewajiban pasti bagi setiap orang Islam, pria maupun wanita. Kewajibannya tersebut tidak terbatas pada masa remaja, tetapi sampai tua pun kewajiban mencari ilmu tidak pernah berhenti. Seperti halnya dalam Hadits:
Rosulullah Saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain yang ahlinya bagaikan menggantungkan permata mutiara dan emas pada babi hutan.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya)
Dalam haditsnya yang lain rosul bersabda: Carilah ilmu mulai dari sejak lahir hingga ke liang lahat. (Al-hadits). Berbeda halnya dengan kewajiban untuk berperang yang kewajibannya di tentukan hanya apabila ada perang, sehingga dalam hal ini pentingnya kewajiban mencari ilmu itu mengalahkan kewajiban berjihad.
Dalam kitab “Ta’limul Muta’allim” disebutkan bahwa ilmu yang wajib dituntut terlebih dahulu adalah “ilmu Haal” yaitu ilmu yang seketika itu pasti digunakan dan diamalkan bagi setiap orang yang sudah baligh. Seperti ilmu Tauhid dan ilmu Fiqih. Di dalam ilmu Tauhid yang harus dipelajari dahulu mengenal ke-Esaan Allah serta sifat-sifat-Nya yang wajib dan muhal, kepercayaan kepada malaikat, kitab-kitab Allah, para Rosul, hari kiamat dan takdir baik dan buruk adalah dari Allah. Kemudian di dalam ilmu Fiqih yang harus dipelajari berkisar tentang Ubudiyyah dan Muamalah.
Apabila dua bidang ilmu itu telah dikuasai, barulah mempelajari ilmu-ilmu lainnya, misalnya ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi manusia.


C. PERBANDINGAN ORANG BERILMU DAN TIDAK BERILMU
Dalam ayat lain, Al-quran juga membandingkan antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Hal ini tedapat dalam suroh Ar-ro’du ayat 16:

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ قُلِ اللهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ لاَيَمْلِكُونَ لأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلاَضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي اْلأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا للهِ شُرَكَآءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ {16}
Artinya: katakanlah siapa tuhan langit dan bumi? Jawabnya “Allah” katakanlah, maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu selain Allah, padahal mereka tidak menguasai manfaatan dan tidak pula kemudorotan bagi diri mereka sendiri?” katakanlah, “adakah sama orang buta dengan orang yang dapat melihat” dan samakah antara gelap gulita dengan terang benderang” apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaanya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah Allah adalah pencipta segala sesuatu dan dialah tuhan yang maha esa lagi maha perkasa.

قُلْ : fi’il amar, (ya Muhammad liqaumika) katakanlah wahai Muhammad pada kaummu.
أَوْلِيَآءَ: (asnaman ta’budunaha) patung-patung yang di sembah
الظُّلُمَاتُ: (alkufru) kafir وَالنُّورُ: (al imanu) iman
قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ: (la syarika lahu fihi fala syarika lahu fil ibadat) tidak ada teman dalam membuatnya dan tidak ada pula dalam beribadah kepadanya.

Tafsir ayat:
Dalam ayat ini Allah menentukan tiada tuhan selain dia. Orang-orang yang menyembah tuhan selain Allah mengakui bahwa Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan dialah yang menguasai dan mengaturnya, mengakui bahwa tuhan-tuhan mereka tidak dapat memberi manfaat dan menolak mudorat bagi mereka sendiri apalagi nagi orang-orang yang menyembahnya.
Allah berfirman قُلْ هَلْ يَسْتَوِي اْلأَعْمَى katakanlah apakah sama antara orang-orang yang buta, sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah tuhan selain Allah, dengan ayat وَالْبَصِيرُ orang-orang yang dapat melihat sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang mengesakan Allah? أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ Dan apakah sama antara keadaan gelap gulita dengan terang benderang.? Sedangkan dalam ayat:
أَمْ جَعَلُوا للهِ شُرَكَآءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Allah bertanya dengan nada ingkar, apakah orang-orang yang musyrik itu menyamakan tuhan yang mereka sekutukan kepada Allah serupa dengan Allah, dan apakah tuhan-tuhan mereka itu dapat menciptakan sebagaimana Allah menciptkan, sehingga mereka tidak dapat membedakan mana yang di ciptakan Allah dan mana yang di ciptakan makhluqnya. Maha sucilah Allah dari anggapan dan kepercayaan yang demikian itu.
Dalam ayat tersebut sangat erat sekali hubungannya dengan firmannya yang lain:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ اْلأَخِرَةَ وَيَرْجُوا رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ {9}
Artinya: apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung? Ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan bersujud sendiri sedang ia takut kepada adzab dan mengharap rahmat tuhannya? Katakanlah “apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-umar:9)

Makna mufrodat ayat:
هُوَ قَانِتٌ: (Qoimun biwadhoifit to’at)selalu tetap dalam keadaan to’at
ءَانَآءَ الَّيْلِ: (sa’atuhu) waktunya
سَاجِدًا وَقَآئِمًا: (fissolati) selalu sujud dan berdiri dalam sholat
يَحْذَرُ اْلأَخِرَةَ: (yakhofu adzabiha) takut akan siksa akhirat
أُولُوا اْلأَلْبَابِ: (ashabul uqul) orang-orang yang mempunyai akal

Tafsir ayat:
Allah SWT. Berfirman: apakah orang yang tekun beribadah di waktu malam bersujud dan berdiri seraya hatinya penuh rasa takut dari adzab akhirat di samping harapan memperoleh rahmat tuhannya apakah orang yang seperti itu dapat di samakan dengan orang yang musyrik yang mengada-ada sekutu bagi Allah, tentu saja tidak sama. Begitu pula antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui tidaklah sama dengan kedudukannya di dunia dan di akhirat, di hadapan sesame manusia dan di sisi Allah.
Dari ayat قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ begitu tampak perbedaan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu, sehingga Alquran juga membedakan tempat keduanya di dunia dan akhirat. Hal ini juga terdapat dalam ayat lain suroh (mujadalah:11) yang artinya:
Allah menganngkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang mempunyai ilmu [al-mujadalah:11]


HANYA ORANG YANG BERILMU YANG TAKUT PADA ALLAH

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ {27} وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَاْلأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا إِنَّ اللهَ عَزِيزُُ غَفُورٌ {28}
Artinya: tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya ada pula yang hitam pekat. Dan demikian pula di antara manusia binatang binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang yang bermacam warnanya. Sesungguhnya hanya ulama lah yang takut kepada Allah para hamba-hambanya,sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun. (fathir:27-28)

Suroh fathir terdiri dari 45 ayat, dan di turunkan sesudah suroh Al-furqon juga menjadi suroh terakhir dari dalam Al-quran yang di mulai dengan Alhamdulillah. Adapun penamaannya dengan fathir, itu ada hubungannya dengan kata fathir yang terdapat pada awal suroh. فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ

Tafsir ayat:
أَلَمْ تَرَ (tidakkah kamu melihat) mengetahui- أَنَّ اللهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا (bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilakan) dalam ungkapan ayat ini terkandung iltifath terhadap dhomir gaib- بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا (dengan hujjah itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya) ada yang berwarna hijau, merah, dan kuning dan warna-warna lainnya.- وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ (dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis) judadun adalah bentuk jamak dari lafadz juddatun, artinya jalan yang terdapat di gunung dan lainnya- بِيضٌ وَحُمْرٌ (putih, merah) dan kuning- مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا (yang beraneka macam warnanya) ada yang tua dan ada yang muda- وَغَرَابِيبُ سُودٌ (dan ada – pula – yang hitam pekat)di athafkan kepada lafadz juddadun, artinya ialah batu-batu yang besar yang hitam pekat warnanya. Di katakana aswadu gharbibu, hitam pekat; tetapi sangat sedikit di katakan gharbibu aswadu.

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَاْلأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ (dan demikian-pula-di antara manusia manusia, binatang melata dan binatang ternak ada yang bermacam warnanya) sebagaimana beraneka ragamnya buah-buahan dan gunung-gunung.- إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا (sesungguhnya yang takut kepada kepada Allah di antara hamba-hambanya, hanyalah ulama) berbeda halnya dengan orang yang jahil seperti orang-orang kafir makkah.- إِنَّ اللهَ عَزِيزُُ (sesungguhnya Allah maha perkasa) di dalam kerajaannya- غَفُورٌ (lagi maha pengampun) terhadap dosa hamba-hambanya yang mukmin.

Dari ayat di atas dapat di ambil sebuah kesimpulan hukum bahwa “hanya orang-orang yang berilmu lah yang benar-benar takut kepada Allah.” Hal ini sesuai dengan hadist nabi yang berbunyi: Al-ulamaa’u warostatul anbiya’ (Al-hadist).
Sebuah pernyataan rosulullah bahwa ulama itu menjadi warisan para nabi karena tidaklah mungkin jika orang yang bodoh (jahil) menyampaikan sebuah risalah yang di bawa oleh Rosul. Karena kita mengenal ijma’, qiyas, dsb. Itu semua adalah hasil daripada olah pikiran orang-orang pintar sehingga dalam islam, sendiri mengenal adanya empat madzhab.












BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Setelah kami menjelaskan dari semua keterangan di atas, maka sebagai akhir dari makalah ini kami akan menyimpulkan bahasan dari makalah yang kami buat sebagai berikut:

1. Ilmu: Mengetahui sesuatu yang bisa memperbaiki hati dan segenap panca indra sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Jika mengetahinya itu melalui sebuah proses ke ilmuan secara sistematis tentang suatu system, maka itu di sebut sains. Sedangkan pengetahuan bermula dari bahasa arab yaitu Al-ilmu dan berasal dari kata “alamah” yang mempunyai arti “tanda” atau symbol yang dengannya segala sesuatu dapat di ketahui.
2. Kewajiban menuntut ilmu mengalahkan kewajiban berjihad dengan alasan menuntut ilmu di perintah dengan tidak di batasi ruang dan waktu, adapun kewajiban jihad (perang) itu di perintah dengan adanya pembatas yakni hanya ketika ada perang.
3. Membedakan derajat orang yang berilmu dan tidak berilmu di mata manusia dan di sisi tuhan.
4. Di antara sekian makhluq tuhan dari jenis manusia hanya ulama’alh (orang-orang yang berilmu) yang takut kepadanya.


B. SARAN-SARAN

Dari sekian yang kami tulis, buat pembaca yang budiman sudilah kiranya memberikan kritik, saran dan masukan kepada kami apabila mendapat kesalahan atau kekurang sempurnaan dari makalah yang kami tulis, demi melanjutkannya ke depan.

Daftar Pustaka
Bahreisy, said’ bahreisy salim, Terjemah singkat tafsir ibnu katsir, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1998, jilid 1
Al-mahalli, Jalaluddin’ Al-suyuti, jalaluddin, Terjemah tafsir jalalain berikut asbabun nuzulnya, Bandung: Sinar baru, 1990, Cet. 1